Curug Cigangsa

Curug Cigangsa terletak 110 Km kearah selatan kota Sukabumi tepatnya di Ds Batusuhunan, Surade, Surade, Sukabumi. Nama curug ini diambil dari nama orang Eyang Gangsa.

Sejak jaman penjajahan Belanda, hulu sungai Cigangsa telah di bendung menjadi 2 saluran irigasi sehingga debit air ke curug relatif kecil, namun pada musim penghujan sungai ini juga sering banjir.

Komentar (4)

Curug Sawer

Tepat setahun yang lalu saya mengunjungi curug tersebut, namun kenangannya masih sangat mengesankan.

Curug Sawer merupakan salah satu tempat rekreasi yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pintu masuk ke kawasan ini jadi satu gerbang dengan pintu masuk ke Situ Gunung. Dari tempat parkir, harus jalan kurang lebih 30 menit, melewati jalan setapak. Suasana dipagi hari pastinya lebih menyenangkan, apalagi ditemani kicauan suara burung yang bersahut sahutan dan dinginnya udara pegunungan yang menyegarkan.

Capek selama perjalanan akan segera terobati melihat keindahan curug yang tinggi menawan dengan debit air yang deras. Airnya sangat dingin menusuk kulit, dan akan kurang puas rasanya kalo kita tidak menyentuhnya langsung :)

Curug Sawer

Curug Sawer

Curug Sawer

Didekat curug ini juga terdapat curug kecil, yang oleh warga setempat disebut curug Bagong. Airnya lebih hangat dibanding air dari Curug Sawer.

Curug Bagong

Anda penasaran? Silakan masukan ke agenda kunjungan refreshing anda.

Komentar (3)

Rumah Makan Sunda ‘TIKTOK’

Sudah 11 hari ini kota Sukabumi sangat panas menyengat disiang hari dan sorenya diguyur hujan lebat. Cuaca yang panas - lembab membuat tenggorokan ingin sesuatu yang segar. Jam istirahat hari ini, kami mendatangi sebuah rumah makan yang mempunyai daya tarik di minumannya, saya menyebut ’juice strawbery ala TikTok’. Juice strawbery disini memang menjadi favorit saya karena sangat kental, murni tanpa campuran susu dan tentunya dari buah strawbery segar. Dikota kecil ini rasanya belum ada yang bisa mengalahkannya.

Rumah makan Tiktok terletak di Jl. RA Kosasih No.232, Sukabumi. Letaknya yang strategis dan menu makanan minuman yang lengkap, membuat RM ini seakan tidak pernah sepi dari pengunjung.

Tiktok adalah unggas hasil persilangan dari itik dan entog. Daging tiktok lebih tebal, gurih dan tidak ‘penguk’ seperti daging bebek. Menu spesial yang menjadi andalan dirumah makan ini tentunya daging Tiktok yang dibakar/digoreng. Harganya sekitar Rp. 6.000/0ns, dengan minimal pembelian adalah setengah ekor. Untuk menu yang menjadi favorit pengunjung yaitu Nasi timbel komplit seharga Rp. 22.000, terdiri dari nasi timbel, ayam, tahu, tempe, ikan asin, lalapan, sambal dan sayur asem. Selain itu daftar menu yang lain ada gurami bakar/cobek/asam manis, aneka sop, udang, karedok, pencok kacang panjang, tumis kangkung/genjer. Namun setiap kami pesan tumis genjer selalu enteng dijawab kosong (sebenarnya ada nggak sih – red).

Menu makan siang kami kali ini adalah nasi timbel komplit plus segelas juice favorit. Namun kami ingin mencoba sesuatu yang berbeda, kami memesan juice MERDEKA yaitu perpaduan antara juice sirsak dan juice strawbery yang menghasilkan warna merah putih memisah. Mmmmm… sangat mantap sekali rasanya, dingin segar – asam….Maknyus…

Komentar (10)

Pelabuhan Ratu

Pelabuhan Ratu berjarak 70 Km dari kota Sukabumi arah barat daya. Jalan ke kawasan ini relatif sudah bagus karena selain tempat tujuan wisata, juga sebagai tempat pusat pemerintahan kabupaten Sukabumi.

Dengan tiket Rp. 2.000/ orang (dewasa), Rp. 1.000 (anak anak), mobil Rp. 5.000, anda dapat menikmati pesona pantai yang sangat menawan. Air yang berwarna biru kehijauan tampak berkilau disiang hari.

Pelabuhan ratu

IMG_5438.jpgPelabuhan 1

IMG_5440.jpgPelabuhan 2

IMG_5437.jpgPelab 3

Pelabuhan Ratu merupakan sebuah teluk dengan ombak yang tenang namun cukup berbahaya karena kedatangan ombak besar yang kadang tidak terduga dan relief dasar pantai yang curam landai.

Dikawasan Pelabuhan Ratu ini anda bisa membeli ikan ikan segar yang tersedia di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Fasilitas hotel bervariasi dari kelas murah s/d kelas mahal. Salah satu hotel sebagai ikon Pelabuhan Ratu adalah Inna Beach Hotel. Konon hotel ini memiliki cerita mistis yang berhubungan dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul.

Disamping Inna Beach Hotel terdapat taman yang bisa jadi tempat parkir dan bermain dengan air laut. Tempat ini dibawah pengelolaan Hotel Kadaka. Suasana cukup rindang, terdapat fasilitas MCK dan juga banyak pedagang yang menjajakan jajanan dan es kelapa muda. Diseberang taman masih dijumpai hutan (Sukawayana) dan terkadang monyet ekor panjang (Macaca sp) ikut bermain, mencari sisa sisa makan bekas pengunjung.

Komentar (5)

Air Panas Cisolok

Dari jalan Karanghawu – Cibangban masih masuk sejauh 2 km. Biaya retribusi per orang Rp.2.000 dan mobil Rp. 1.000. Dari tempat parkir ke lokasi sekitar 200 meter. Sebelum mencapai air panas, kita melewati jembatan gantung yang hanya berkapasitas 10 orang

Air panas menyembur dari sela sela bebatuan.

Semburan air Panas

Semburan air Panas

file0000756-11

Penanganan kawasan ini masih sangat minim, padahal merupakan salah satu aset wisata yang cukup menarik. Selain itu juga ulah (preman- red) yang tanpa minta izin menyucikan mobil pengunjung dan minta tarif Rp. 10.000 perkendaraan. Ketika kita menanyakan alasan kenapa menyucikan mobil tanpa di minta, jawabannya adalah SUDAH BIASA. Pemerasan model baru! Apabila tidak segera ditangani pastinya akan merusak citra pariwisata di kawasan obyek wisata Cipanas, Cisolok ini.

Komentar (6)

Obyek Wisata Cibangban

Obyek wisata ini terletak kurang lebih 10 Km setelah Inna Samudera Beach. Parkiran nyaman dan di tempat ini pengunjung bisa bakar bakar ikan.

file0000814-131

file0000818-141

Pemandangan laut dihiasi dengan kapal nelayan yang terapung apung di lepas pantai.

Komentar (3)

Pondok Halimun, Sukabumi

Hari Minggu yang cerah (agak mendung sedikit sich) di pertengahan bulan Februari 09. Kami telah berencana untuk menemani Rista dan Yudi buat foto pre wedding.

Sebelum naik ke kawasan wisata Pondok Halimun atau lebih dikenal dengan sebutan PH yang berjarak 7 km dari kota Sukabumi, kami sempatkan dulu mengisi perut dengan sepiring bubur di warung mang Adun. Meski hanya warung tenda tapi rasanya tidak kalah dengan bubur di warung2 elit lainya.

Dari warung mang Adun ( Jl. Suryakancana), kami ambil arah Selabintana. Jalanan ke arah sana memang agak sempit, tapi lancar. Sebelum hotel Selabintana, di tengah jalan tersebut ada papan penunjuk arah ke kiri. Dari situ masih berjarak 2 km. Jalan agak menanjak dan kanan kiri ada beberapa villa yang disewakan.

Setelah bayar retribusi (Rp. 2000 perorang), kami melanjutkan perjalanan. Amboiii…. siapa menyangka, di lokasi ini tersimpan sejuta keindahan dan kesejukan khasnya lereng Gunung Gede. Sepanjang perjalanan terhampar hijaunya perkebunan teh milik PTPN VIII kab. Sukabumi.  Disebelah kiri sana menjulang dengan anggunnya Gunung Gede Pangrango.

img_3477

img_3456

Dikawasan PH ini ada beberapa BuPer (Bumi Perkemahan) yaitu Buper Cipelang, Buper Elang Jawa dan Buper Pondok Halimun.

Salah Satu Buper yang ada

Salah Satu Buper yang ada

Keindahan alam semakin lengkap dengan tarian elang jawa (Spizaetus bartelsi) diatas pepohonan (moment ini biasanya dapat diliat waktu pagi/ siang ketika cuaca cerah).

img_3430

Setelah menyimpan kendaraan dengan bayar Rp. 2000 (tanpa karcis), mata kami mulai beraksi lirik kanan kiri mencari tempat yang pas buat menjeprat jepret Rista dan Yudi. Kamipun mendapat view yang pas, ada saung saung kecil, bebatuan dan sungai dengan air jernih yang mengalir menerobos bebatuan.
Brrr....segar dan Dingin

Brrr....segar dan Dingin

Di tempat ini ada juga deretan warung yang menyajikan bandrek panas dan jagung bakar untuk  menghangatkan diri. Mmmmmm…….
img_34111
Nb. Buat anda yang ingin menikmati segar dinginnya air dan keindahan curug Cibereum, anda bisa melanjutkan perjalanan dari tempat ini dengan berjalan kaki sejauh 2,5 Km.
Matahari semakin tinggi. Meski belum cukup puas, kami harus segera pulang karena sudah ditunggu temen temen arisan di rumah Wahyu.

Komentar (14)

Ujung Genteng (1)

Minggu ke 2 di bulan Maret ini adalah long week end. Jauh jauh hari sebelumnya, kami telah merencanakan untuk liburan di Ujung Genteng (UG), salah satu tempat wisata pesisir pantai selatan Sukabumi.

Rencana semula ada 6 orang yang mau ikut, akan tetapi berhubung ada sesuatu hal, 2 teman kami membatalkan keberangkatan. Kami berempat tetap berangkat dan telah sepakad berkumpul pada hari Sabtu jam 13.00 WKI ( Waktu Kampung Inggris). Dan seperti biasa, mungkin jam karet memang sudah jadi budaya. Saya dan mas master tukang komputer baru tiba dari Bandung jam 14.00, sementara mas dokter tukang tanaman masih sibuk nyelesaikan pekerjaan kantor yang kemudian menjemput mbak dokter tukang ular dari Bogor. Kota Sukabumi di guyur hujan lebat. Jam 16.00 mereka datang dan kami segera bersiap siap. Berbekal perut kenyang dengan sebungkus nasi KFC akhirnya berngkatlah kami.

Si Bejo (nama kesayangan buat kendaraan operasional saya) diarahkan ke Kota Sukabumi – Jalan Pelabuhan Dua – Pangleseran – Bojong Lopang – Jampang Tengah – Lengkong (asalnya Debo, peserta Idola Cilik 2) – Jampang Kulon. Jalanan sepi, naik turun berkelok kelok dan kondisinya banyak berlubang. Laju si Bejo diperlambat ketika melewati daerah kebun coklat, karena sebelumnya mas Dokter pernah nyaris menabrak kukang (binatang malam) yang sedang menyeberang. Mas dokter memang sangat hafal karena daerah ini adalah wilayah jajahannya.

Jam 21.00 kami sampai di Surade. Kondisi jalan di daerah ini sudah bagus. Puff… capek juga duduk berjam jam. Paling enak kayaknya makan bakso, buat menghalau dingin. Kami bersepakad untuk cari warung bakso. Mas dokter mengajak ke warung bakso langganannya.. warung mie bakso OJOLALI. Dan setelah kenyang makan semangkuk bakso seharga Rp. 6000 ini, kami memang tidak akan pernah melupakan ‘prengutane’ si ibu Bakso.

Kami melanjutkan perjalanan menerobos kegelapan malam. Jam 22.00 akhirnya sampailah kami di Ujung Genteng. Total perjalanan sepanjang 130 Km kami tempuh selama 5 jam. Nyantai aja, biar lambat asal selamat.

Wah… tak sabar rasanya untuk segera mengintip penyu hijau yang lagi bertelur. Kami semua minim informasi tentang wilayah ini. Dalam kebimbangan, kami dihampiri oleh tukang ojeg yang siap untuk mengantarkan kami ke tempat penyu. Jaraknya masih sekitar 3 km an. Mereka menawarkan gocap (Rp. 50.000) perorang satu motor. Ditawar tawar dengan bahasa sundapun mereka tak mau menurunkan harga ( tetep tau kali ya, kalo kami bukan orang Sunda). Tapi karena memang sudah pengeeeen banget akhirnnya kami menyetujui harga tersebut. Si Bejo kami parkir di halaman Pondok Adi. Kami melintasi jalan yang gelap nan sempit dan sering berpapasan dengan motor motor lain yang pulang dari Pangumbahan. Wah rupanya kami sudah kemalaman. Sesampainya di tempat konservasi, ternyata masih banyak pengunjung yang lain. Segera kami mengisi buku tamu dan membayar Rp. 5.000 kepada petugas jaga. Bersama sama kami di antar ke tempat penyu. Kebetulan 4 penyu sebelumnya sudah selesai bertelur dan sudah kembali ke laut. Lama juga kami menunggu giliran penyu berikutnya. Sambil menunggu,  kami korek informasi ke bapak petugas. Katanya, dulu tempat konservasi ini dikelola oleh swasta dan sejak Agustus 2008 telah diambil alih oleh pemerintah. Puncak musim bertelur adalah bulan November – Januari. Pada musim ini bisa sampai 90 ekor penyu, sementara pada musim musim seperti sekarang rata rata permalam hanya 10 ekor penyu yang bertelur. Pantai Pangumbahan hanyalah salah satu titik saja sebagai tempat favorit untuk bertelur. Sebenarnya masih sejauh 9 Km ke arah Ciemas tetapi baru radius 3 Km saja yang tertangani. Pasir di Pantai Pangumbahan ini sangat halus. Sementara kami asyik ngobrol, ada 2 ekor penyu yang sudah mendarat dan mulai membuat lubang untuk bertelur. Petugas tak segan segan mengingatkan pengunjung untuk tidak menyalakan lampu atau jeprat jepret kamera, karena adanya sinar lampu mengganggu penyu yang mau bertelur. Wow… besar sekali penyunya, diameter antara setengah sampai satu meter. Dalam keremangan, terlihat kedua kaki belakang dipakainya untuk menyibakkan pasir.  Lubang galian kurang lebih setengah meter dengan posisi belakang lebih dalam sehingga posisi penyu pada saat bertelur hampir tegak lurus. lama penggalian ini sekitar 1 – 1,5 jam.

Membuat Lubang untuk Bertelur

Membuat Lubang untuk Bertelur

Penyu hijau ((chelonia mydas) mulai bertelur pada umur antara 25 – 30 tahun dan sekali bertelur antara 100 – 200 butir. Ketika sudah mulai mengeluarkan telur telur yang besarnya se bola ping pong, penyu tak peduli dengan gangguan disekitarnya. Pada saat ini kamipun sudah boleh menyalakan lampu senter dan memotret si penyu. Si penyu terus mengeluarkan telurnya sampai selesai. Dalam satu musim bertelur bisa 3 -4 kali bertelur.

Sedang Bertelur

Sedang Bertelur

Setelah selesai bertelur secara alami si penyu akan segera menutup lubang dengan kaki belakangnya. Tapi ditempat konservasi ini, petugas akan segera mengamankan (mengambil) telur telur tersebut agar tidak dimakan biawak ataupun pemangsa lainnya. Telur telur dibawa ke tempat penetasan (Hatcher). Penyu segera pulang ke laut. Tampak sekali si penyu capek dan lelah. Ketika kami sorot lampu, dipelupuk matanya berair seperti sedang menangis. Kenapa ya?

Sekali proses bertelur dari mendarat, membuat lubang, bertelur, sampai kembali ke laut butuh waktu sekitar 3 – 3,5 jam.

Kembali ke Laut

Kembali ke Laut

 Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul o1.00 dini hari. Kami dan pengunjung yang lain segera meninggalkan tempat tersebut. Kami melewati tempat pasir yang dipagar bambu. Ternyata tempat itu adalah tempat penetasan. Kami diizinkan untuk masuk ke dalam ketempat telur telur ditanam. Didalam area tersebut kami jalan hati hati dan satu setapak saja agar tidak menginjak telur yang ditanam. Ditengah terdapat lubang jebakan dan lampu, agar tukik tukik (anakan penyu yang sudah menetas) masuk kesitu dan mempermudah pangambilan. Telur akan menetas menjadi tukik setelah 52 hari. Bayi mungil penyu ini sangat lucu sekali cangkangnya masih lunak. Sebelum naik ojeg untuk kembali ke kendaraan kami melihat tukik tukik yang siap untuk dilepaskan ke laut. Setiap harinya tukik tukik ini dilepas ke laut pada jam setengah lima sore. Minimal 1000 tukik yang dilepaskan, akan tetapi hanya sekitar 1% saja yang hidup dan kembali kesini untuk kemudian bertelur meneruskan keturunannya.

Tukik Tukik Siap Dilepas ke Laut

Tukik Tukik Siap Dilepas ke Laut

Kami kembali menerobos kegelapan malam ke tempat parkir si Bejo. Mata rasanya sudah lengket, dan kebetulan Pondok Adi sudah penuh sehingga harus cari penginapan lain. Kami datangi semua pondok penginapan yang di situ mulai dari Pondok Hexa, Pondok Ujang, Pondok Deddy dan Pondok Mamas. Tepatlah dugaan kami = semua penuh. Malam itu memang banyak sekali pengunjungnya. Dalam keadaan seperti itu, kami tetap beruntung karena kami semua adalah petualang. Dalam keadaan apapun, posisi apapun, dimanapun, kami bisa tidur. Akhirnya kami parkir di halaman salah satu pondok, no matter what… dan ZZzz….ZZzz…zzzzzzzzz……

Komentar (2)

Ujung Genteng (2)

Deburan ombak menyadarkan keberadaan kami.. hari masih pagi. Kami segera bangun dan melanjutkan petualangan. Angin laut yang hangat mengajak kami jalan jalan menyusuri pantai berkarang. Karang yang berwarna hitam seolah menjadi batas antara tanah berpasir pecahan karang dengan air laut. Ombak telah pecah jauh dari garis bibir pantai.

Ujung Genteng di Pagi Hari

Ujung Genteng di Pagi Hari

Dan wow…… di ufuk barat sana kami melihat ada pelangi yang sangat indah.

Pelangi di Ujung Genteng

Pelangi di Ujung Genteng

Kami menuju pantai Cibuaya, mengikuti tepian sepanjang karang. Air sangat jernih dan bisa terlihat biota biota laut. Ganggang laut, kepiting dan ikan ikan kecil yang berenang. Beberapa pengunjung ada yang bermain di air sambil berfoto ria. Namun harus tetap berhati hati karena di sela sela karang ini kami melihat ular laut bersembunyi. Ular laut mempunyai bisa tingkat tinggi yang dapat mematikan dan gerakan mereka di air lebih lincah.

Tak henti hentinya kami mengagumi keindahan pantai Ujung Genteng ini.

Taken from Album 'Meteor Genteng'

Taken from Album ‘Meteor Genteng’

Aquarium Alami

Aquarium Alami

Pantai Cibuaya merupakan tempat bermuaranya sungai ke laut. Namun sungainya kecil tidak seperti Cipanarikan atau Cikarang. Di Pantai ini pengunjung bisa bermain air laut, namun harus berhati hati karena pasirnya kasar (pecahan karang). Semula kami ingin menyusuri pantai menuju Pantai Pangumbahan tempat kami semalam mengintip penyu bertelur. Tapi karena sudah agak siang, kami kembali ke tempat parkir dan mampir membeli kelapa muda, lumayan Rp. 2000/buah.

Perjalanan dilanjutkan ke daerah pelelangan ikan, tempat ini terletak di sebelah barat. Ditempat ini kapal kapal nelayan bersandar. Beberapa nelayan menyiapkan umpan untuk menangkap keong macan. Keong ini biasanya dikirim ke Jakarta. Lumayan mahal. per Kg nya Rp. 90.000.

Kami tertarik mengelilingi semenanjung yang ada di tempat ini. Tempatnya sangat sepi namun menyimpan sejuta keindahan yang benar benar alami. Pasir putih menghampar sepanjang perjalanan. Air lautnya sangat bersih dan biota lautnya juga lebih banyak. Selain berbagai macam ganggang, ikan kecil warna warni, kerang, kepiting, bulu babi, ada juga bintang ular. Ombak memecah jauh di sana. Beberapa burung laut hinggap di antara karang. Panas terik tidak kami rasakan. Mata kami bener bener terpuaskan oleh keindahan alam di sini.

Ujungnya Ujung Genteng

Ujungnya Ujung Genteng

Ditempat ini ada beberapa pengunjung yang mendirikan tenda biru dan membawa mobil, entah darimana rute jalannya. Kami juga melihat seorang anggota TNI AU bersenjata yang sedang mojok ‘bobogohan’ (pacaran). Kami terus menyusuri pantai mengagumi biota biota laut. Wah…. ada anak biawak yang habis mandi. Kamera beraksi menjepret anak biawak. Dan tanpa disadari, anggota TNI AU tadi mendatangi kami dan menegur kami setengah menggertak. Entah hanya karena kepergok lagi pacaran atau dia memang dia lagi patroli. Kami dianggap masuk tanpa izin. Daerah ini adalah wilayah terlarang. Kami sama sekali tidak tahu karena sepanjang perjalanan tidak ada rambu rambu, tulisan, peringatan dan sebangsanya. Seandainya ada peraturan harus izin, kami pasti akan izin terlebih dahulu. Kami diminta melapor di pos jaga. Tapi sesampainya di dekat pos jaga, tidak ada petugas yang mendatangi kami.

Ternyata semenanjung yang kami kelilingi tadi adalah ujungnya Ujung Genteng sebelah barat – selatan. Dan mungkin kami ditegur oleh anggota TNI AU karena tempat tersebut untuk latihan menembak.

Dari tempat ini, kami bisa melihat dermaga tua yang tengahnya telah hancur di terjang ombak.

Perut sudah keroncongan minta makan, kurang afdol rasanya kalo maen di pantai tidak mencicipi ikan laut bakar. Kami ke pasar ikan, ada berbagai macam ikan yang dijual diantaranya ikan baung, layur, pari, semar (sunda = etem), kerapu dan tentunya keong macan. Kami pengen kerang dan kepiting tapi kebetulan sedang kosong. Akhirnya kami membeli sekilo ikan semar dengan harga Rp. 13.000. Lumayan di mahalin,  tapi tak apalah. Disekitar tempat ini banyak sekali warung warung makan yang menyediakan jasa membakar ikan. Dan akhirnya…. tibalah saatnya untuk makan pagi sekaligus makan siang (sudah biasa anak kost ngirit…).

Menu Makan Pagi + Siang

Menu Makan Pagi + Siang

Ikan semar sangat cocok dibakar. Dagingnya padat dan tidak banyak duri. Selesai makan kami mencari penginapan untuk menginap nanti malam. Ibu warung memberitahu penginapan yang masih ada kamar kosong.  Tempatnya memang jauh dari pantai. Penginapan ‘ Dewi Sari Bunga’. No comment, tapi murah..40 ribu/malam.

Target selanjutnya adalah Muara Ciapanarikan. Denger namanya saja sudah terbayang keindahannya. Dari Pondok Adi masih sejauh 5,2 KM, atau 2,5 KM setelah tempat konservasi penyu hijau. Jalannya off road, becek dan harus naik ojeg. Kecuali pake mobil double gardan atau sopir yang memang handal. Sepanjang perjalanan ini kami bertemu segerombolan sapi yang sedang digembalakan. Sampai disana terdapat rumah yang kosong dan ditempat itulah para ojegkers menunggui pengunjung muara Cipanarikan. Masih harus jalan sekitar 200 M. Sepanjang jalan ini banyak dijumpai lubang lubang raksasa. Lubang ini adalah rumah si kepiting merah. Konon, kepiting ini berbahaya/beracun.

Muara Cipanarikan sangat indah . Pertemuan antara sungai Cipanarikan dengan laut, membentuk sebuah sudut yang berbatasan dengan daratan. Sensasi pasir putihnya yang halus, bersih dan lembut menjadikan tempat ini sangat sempurna (tidak cukup dilihat, harus dirasakan). Di muara ini pengunjung bisa memancing. Burung lautpun beterbangan kesana kemari.

Sungai Cipanarikan

Sungai Cipanarikan

Merasakan Sensasi Pasirnya

Merasakan Sensasi Pasirnya

Muara Cipanarikan

Muara CipanarikanMmmmm

Hari beranjak sore, kami ingin menikmati sunset di disini namun terhalang mendung. Akhirnya kami kembali.

Perjalanan pulang lancar dan kami mampir di depan Pondok Mamas untuk berenang sekalian mandi, tapi yang berani renang hanya mas Dokter saja. Air sudah mulai pasang dan kamipun sudah lelah. Sebelum pulang ke penginapan kami mampir kepasar ikan lagi membeli sekilo ikan baung untuk santap malam. Rasanya tidak segurih ikan semar. Dagingnya agak lembek. Ikan ini merupakan ikan air payau.

Kami mengakhiri hari ini di penginapan ‘Dewi Sari Bunga’. Masih ada waktu sehari lagi untuk meneruskan petualangan.

Komentar (14)

Curug Cibereum

Curug Cibereum,, berada di 1/10 ketinggian Gunung Gede. Pendakian dimulai dari Pondok Halimun dengan mengambil jalur masuk gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jalur ini telah dibuat setapak dengan jarak 2,5 Km dan dapat ditempuh selama 1 – 1,5 jam. Kanan kiri masih berupa hutan alami.

Jalan Setapak Menuju Curug

Jalan Setapak Menuju Curug

Pada awal awal pendakian, di sebelah kanan jalan mengalir air yang jernih yang bersumber dari curug.

Mmmmmmmmmmmmmm

Mmmmmmmmmmmmmm

Sepanjang perjalanan terdengar kicauan burung bersahut sahutan dan sesekali masih terdengar suara canda tawa monyet. Namun ditengah asyiknya menikmati keindahan alam disini, tanpa kusadari seekor pacet telah menempel di kakiku… Hiiii.. Lintah dan pacet adalah binatang yang aku takuti no 2 setelah ulat. Kebetulan saat itu adalah musim penghujan sehingga banyak ditemukan kedua binatang tsb.

Sebelum mencapai curug, terdapat pos retribusi yang bisa kita jadikan sebagai tempat istirahat sejenak dan mengorek info dari bapak bapak petugas jaga. Saat itu kamipun mendapat tips agar selama pendakian tidak menoleh kebelakang agar tidak kerasa capeknya.

Perjalanan kami lanjutkan dan tak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh air terjun.

Itu Curugnya Kelihatan..........

Itu Curugnya Kelihatan..........

Sebelum berbasah basah main air di curug, kami berkumpul di saung dan mengisi perut dulu dengan bekal yang kami bawa dari rumah.

Dan akhirnya………….

Keindahan Curug Cibereum

Keindahan Curug Cibereum

Curug Cibereum masih sangat alami, airnya sangat dingiiiin, bersih dan segar. Konon curug ini bersumber dari 3 mata air.

Sayang sekali saat itu kami tidak membawa kamera yang mendukung untuk mengabadikan curug ini.

Komentar (9)

Tulisan yang Lebih Tua »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.