Deburan ombak menyadarkan keberadaan kami.. hari masih pagi. Kami segera bangun dan melanjutkan petualangan. Angin laut yang hangat mengajak kami jalan jalan menyusuri pantai berkarang. Karang yang berwarna hitam seolah menjadi batas antara tanah berpasir pecahan karang dengan air laut. Ombak telah pecah jauh dari garis bibir pantai.
Ujung Genteng di Pagi Hari
Dan wow…… di ufuk barat sana kami melihat ada pelangi yang sangat indah.
Pelangi di Ujung Genteng
Kami menuju pantai Cibuaya, mengikuti tepian sepanjang karang. Air sangat jernih dan bisa terlihat biota biota laut. Ganggang laut, kepiting dan ikan ikan kecil yang berenang. Beberapa pengunjung ada yang bermain di air sambil berfoto ria. Namun harus tetap berhati hati karena di sela sela karang ini kami melihat ular laut bersembunyi. Ular laut mempunyai bisa tingkat tinggi yang dapat mematikan dan gerakan mereka di air lebih lincah.
Tak henti hentinya kami mengagumi keindahan pantai Ujung Genteng ini.
Taken from Album ‘Meteor Genteng’
Aquarium Alami
Pantai Cibuaya merupakan tempat bermuaranya sungai ke laut. Namun sungainya kecil tidak seperti Cipanarikan atau Cikarang. Di Pantai ini pengunjung bisa bermain air laut, namun harus berhati hati karena pasirnya kasar (pecahan karang). Semula kami ingin menyusuri pantai menuju Pantai Pangumbahan tempat kami semalam mengintip penyu bertelur. Tapi karena sudah agak siang, kami kembali ke tempat parkir dan mampir membeli kelapa muda, lumayan Rp. 2000/buah.
Perjalanan dilanjutkan ke daerah pelelangan ikan, tempat ini terletak di sebelah barat. Ditempat ini kapal kapal nelayan bersandar. Beberapa nelayan menyiapkan umpan untuk menangkap keong macan. Keong ini biasanya dikirim ke Jakarta. Lumayan mahal. per Kg nya Rp. 90.000.
Kami tertarik mengelilingi semenanjung yang ada di tempat ini. Tempatnya sangat sepi namun menyimpan sejuta keindahan yang benar benar alami. Pasir putih menghampar sepanjang perjalanan. Air lautnya sangat bersih dan biota lautnya juga lebih banyak. Selain berbagai macam ganggang, ikan kecil warna warni, kerang, kepiting, bulu babi, ada juga bintang ular. Ombak memecah jauh di sana. Beberapa burung laut hinggap di antara karang. Panas terik tidak kami rasakan. Mata kami bener bener terpuaskan oleh keindahan alam di sini.
Ujungnya Ujung Genteng
Ditempat ini ada beberapa pengunjung yang mendirikan tenda biru dan membawa mobil, entah darimana rute jalannya. Kami juga melihat seorang anggota TNI AU bersenjata yang sedang mojok ‘bobogohan’ (pacaran). Kami terus menyusuri pantai mengagumi biota biota laut. Wah…. ada anak biawak yang habis mandi. Kamera beraksi menjepret anak biawak. Dan tanpa disadari, anggota TNI AU tadi mendatangi kami dan menegur kami setengah menggertak. Entah hanya karena kepergok lagi pacaran atau dia memang dia lagi patroli. Kami dianggap masuk tanpa izin. Daerah ini adalah wilayah terlarang. Kami sama sekali tidak tahu karena sepanjang perjalanan tidak ada rambu rambu, tulisan, peringatan dan sebangsanya. Seandainya ada peraturan harus izin, kami pasti akan izin terlebih dahulu. Kami diminta melapor di pos jaga. Tapi sesampainya di dekat pos jaga, tidak ada petugas yang mendatangi kami.
Ternyata semenanjung yang kami kelilingi tadi adalah ujungnya Ujung Genteng sebelah barat – selatan. Dan mungkin kami ditegur oleh anggota TNI AU karena tempat tersebut untuk latihan menembak.
Dari tempat ini, kami bisa melihat dermaga tua yang tengahnya telah hancur di terjang ombak.
Perut sudah keroncongan minta makan, kurang afdol rasanya kalo maen di pantai tidak mencicipi ikan laut bakar. Kami ke pasar ikan, ada berbagai macam ikan yang dijual diantaranya ikan baung, layur, pari, semar (sunda = etem), kerapu dan tentunya keong macan. Kami pengen kerang dan kepiting tapi kebetulan sedang kosong. Akhirnya kami membeli sekilo ikan semar dengan harga Rp. 13.000. Lumayan di mahalin, tapi tak apalah. Disekitar tempat ini banyak sekali warung warung makan yang menyediakan jasa membakar ikan. Dan akhirnya…. tibalah saatnya untuk makan pagi sekaligus makan siang (sudah biasa anak kost ngirit…).
Menu Makan Pagi + Siang
Ikan semar sangat cocok dibakar. Dagingnya padat dan tidak banyak duri. Selesai makan kami mencari penginapan untuk menginap nanti malam. Ibu warung memberitahu penginapan yang masih ada kamar kosong. Tempatnya memang jauh dari pantai. Penginapan ‘ Dewi Sari Bunga’. No comment, tapi murah..40 ribu/malam.
Target selanjutnya adalah Muara Ciapanarikan. Denger namanya saja sudah terbayang keindahannya. Dari Pondok Adi masih sejauh 5,2 KM, atau 2,5 KM setelah tempat konservasi penyu hijau. Jalannya off road, becek dan harus naik ojeg. Kecuali pake mobil double gardan atau sopir yang memang handal. Sepanjang perjalanan ini kami bertemu segerombolan sapi yang sedang digembalakan. Sampai disana terdapat rumah yang kosong dan ditempat itulah para ojegkers menunggui pengunjung muara Cipanarikan. Masih harus jalan sekitar 200 M. Sepanjang jalan ini banyak dijumpai lubang lubang raksasa. Lubang ini adalah rumah si kepiting merah. Konon, kepiting ini berbahaya/beracun.
Muara Cipanarikan sangat indah . Pertemuan antara sungai Cipanarikan dengan laut, membentuk sebuah sudut yang berbatasan dengan daratan. Sensasi pasir putihnya yang halus, bersih dan lembut menjadikan tempat ini sangat sempurna (tidak cukup dilihat, harus dirasakan). Di muara ini pengunjung bisa memancing. Burung lautpun beterbangan kesana kemari.
Merasakan Sensasi Pasirnya
Hari beranjak sore, kami ingin menikmati sunset di disini namun terhalang mendung. Akhirnya kami kembali.
Perjalanan pulang lancar dan kami mampir di depan Pondok Mamas untuk berenang sekalian mandi, tapi yang berani renang hanya mas Dokter saja. Air sudah mulai pasang dan kamipun sudah lelah. Sebelum pulang ke penginapan kami mampir kepasar ikan lagi membeli sekilo ikan baung untuk santap malam. Rasanya tidak segurih ikan semar. Dagingnya agak lembek. Ikan ini merupakan ikan air payau.
Kami mengakhiri hari ini di penginapan ‘Dewi Sari Bunga’. Masih ada waktu sehari lagi untuk meneruskan petualangan.