Pondok Halimun, Sukabumi

Hari Minggu yang cerah (agak mendung sedikit sich) di pertengahan bulan Februari 09. Kami telah berencana untuk menemani Rista dan Yudi buat foto pre wedding.

Sebelum naik ke kawasan wisata Pondok Halimun atau lebih dikenal dengan sebutan PH yang berjarak 7 km dari kota Sukabumi, kami sempatkan dulu mengisi perut dengan sepiring bubur di warung mang Adun. Meski hanya warung tenda tapi rasanya tidak kalah dengan bubur di warung2 elit lainya.

Dari warung mang Adun ( Jl. Suryakancana), kami ambil arah Selabintana. Jalanan ke arah sana memang agak sempit, tapi lancar. Sebelum hotel Selabintana, di tengah jalan tersebut ada papan penunjuk arah ke kiri. Dari situ masih berjarak 2 km. Jalan agak menanjak dan kanan kiri ada beberapa villa yang disewakan.

Setelah bayar retribusi (Rp. 2000 perorang), kami melanjutkan perjalanan. Amboiii…. siapa menyangka, di lokasi ini tersimpan sejuta keindahan dan kesejukan khasnya lereng Gunung Gede. Sepanjang perjalanan terhampar hijaunya perkebunan teh milik PTPN VIII kab. Sukabumi.  Disebelah kiri sana menjulang dengan anggunnya Gunung Gede Pangrango.

img_3477

img_3456

Dikawasan PH ini ada beberapa BuPer (Bumi Perkemahan) yaitu Buper Cipelang, Buper Elang Jawa dan Buper Pondok Halimun.

Salah Satu Buper yang ada

Salah Satu Buper yang ada

Keindahan alam semakin lengkap dengan tarian elang jawa (Spizaetus bartelsi) diatas pepohonan (moment ini biasanya dapat diliat waktu pagi/ siang ketika cuaca cerah).

img_3430

Setelah menyimpan kendaraan dengan bayar Rp. 2000 (tanpa karcis), mata kami mulai beraksi lirik kanan kiri mencari tempat yang pas buat menjeprat jepret Rista dan Yudi. Kamipun mendapat view yang pas, ada saung saung kecil, bebatuan dan sungai dengan air jernih yang mengalir menerobos bebatuan.
Brrr....segar dan Dingin

Brrr....segar dan Dingin

Di tempat ini ada juga deretan warung yang menyajikan bandrek panas dan jagung bakar untuk  menghangatkan diri. Mmmmmm…….
img_34111
Nb. Buat anda yang ingin menikmati segar dinginnya air dan keindahan curug Cibereum, anda bisa melanjutkan perjalanan dari tempat ini dengan berjalan kaki sejauh 2,5 Km.
Matahari semakin tinggi. Meski belum cukup puas, kami harus segera pulang karena sudah ditunggu temen temen arisan di rumah Wahyu.

1 Tanggapan »

  1. Comment berkata

    Lutung berkata
    Maret 13, 2009 @ 9:51 am
    Ada lutung gak di sana?

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 16, 2009 @ 1:38 pm
    Komentar untuk Lutung: Sayang sekali, ketika kami berada di sana kami tidak ketemu Lutung, padahal berdasar informasi yang pernah saya peroleh, kawasan Pondik Halimun ini adalah salah satu titik tempat bermainnya (habitat) lutung dan surili. Titik habitat selain Pondok Halimun adalah Curug Cibereum dan Situ Gunung. Secara langsung saya ketemu Lutung di Situ Gunung. Ternyata Lutung adalah binatang yang pemalu, karena pas akan di foto, si Lutung malah pergi menjauh dan menutupi matanya dengan kedua tangan seakan bermain ciluk baa… MENGGEMASKAN. Jika anda tertarik, silakan kunjungi Situ Gunung pada pagi hari sekitar jam setengah 7 atau sore hari jam 5, karena pada jam jam tersebut biasanya si Lutung turun minum ke Situ.

    Balas
    Pondok Halimun, Sukabumi « Yoanes Bandung & Activities berkata
    Maret 17, 2009 @ 10:53 am
    [...] Cerita ditulis oleh Kenti di sini. [...]

    Balas

    Tanggalan berkata
    Maret 17, 2009 @ 6:32 pm
    Wah menarik sekali ulasan tentang lutung. Imut banget tuh kayaknya lutung-lutungnya. Ada gak nih foto-foto tentang lutung di daerah tersebut? Oh ya, apakah burung elang juga mengkonsumsi anak lutung?

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 18, 2009 @ 10:07 am
    Sekaligus tanggapan untuk mbak/ ibu Ika : Lutung yang saya liat disana memang lumayan banyak. Tunggu info lengkap plus foto lutung di liputan Situ Gunung.

    Balas

    Ika Marina berkata
    Maret 17, 2009 @ 6:52 pm
    Saya juga merasa tertarik dengan bahasan tentang lutung, apalagi dikatakan lutungnya menggemaskan. Ditunggu ya liputan yang lebih lengkap tentang lutung. Makasih …

    Balas

    Agusz berkata
    Maret 19, 2009 @ 5:07 am
    Wah aku nunggu juga nih posting tentang lutung… eh kalau surili itu sama dengan lutung gak sih?

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 23, 2009 @ 1:32 pm
    Surili masih kerabat dekat dengan lutung, karena masih dalam 1 sub suku yaitu Colubinae.
    Secara lebih jauh. mereka mempunyai kesamaan yang menciri yaitu pada organ pencernaan yang khusus. Sama sama makan dedaunan.
    Perbedaan secara kenampakan fisik:
    Surili : Ciri umum nya mempunyai warna kelabu pada seluruh permukaan tubuh atas/ punggung, permukaan perut warna putih demikian juga ekornya. Kaki dan tangan hitam.
    Lutung : Warna hitam pada seluruh permukaan tubuh dari kepala, punggung, perut. Ciri kahas yang lain yaitu mempunyai jumbai pada pipinya.

    Balas

    Tungtung berkata
    Maret 24, 2009 @ 4:37 pm
    Wh mau donk foto2 lutung dan surili … ditunggu ya …

    Agusz berkata
    Maret 21, 2009 @ 6:33 pm
    Mana nih liputan ttg Lutung? sudah ditunggu-tunggu lho …

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 22, 2009 @ 4:06 am
    Sabar Mas, lagi menyelesaikan tulisan yang Ujung Genteng dulu nih.

    Balas

    Blogg berkata
    Maret 22, 2009 @ 6:01 am
    Membaca tulisan di atas, saya juga jadi tertarik pad lutung. Bagaimana hubungan antara lutung dan monyet? Lutung tinggal di mana saja? Oh ya apakah surili itu sama dengan lutung?

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 24, 2009 @ 11:47 am
    Terimakasih atas responnya. Hubungan antara lutung dan monyet (monyet ekor panjang) yaitu masih sama sama dalam 1 suku / familia yaiti Cercopithecidae. Lutung di Indonesia mempunyai 3 (tiga) anak jenis yaitu : 1. Jawa Barat, 2. Jawa timur, 3. Bali dan Lombok. Persamaan/ perbedaan surili dan lutung saya tanggapi di sdr Agusz.

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 25, 2009 @ 10:22 am
    Foto lutungnya ada, masih di MMC, ntar minggu depan saya tampilin. Tunggu saja..trimz

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar