Ujung Genteng (1)

Minggu ke 2 di bulan Maret ini adalah long week end. Jauh jauh hari sebelumnya, kami telah merencanakan untuk liburan di Ujung Genteng (UG), salah satu tempat wisata pesisir pantai selatan Sukabumi.

Rencana semula ada 6 orang yang mau ikut, akan tetapi berhubung ada sesuatu hal, 2 teman kami membatalkan keberangkatan. Kami berempat tetap berangkat dan telah sepakad berkumpul pada hari Sabtu jam 13.00 WKI ( Waktu Kampung Inggris). Dan seperti biasa, mungkin jam karet memang sudah jadi budaya. Saya dan mas master tukang komputer baru tiba dari Bandung jam 14.00, sementara mas dokter tukang tanaman masih sibuk nyelesaikan pekerjaan kantor yang kemudian menjemput mbak dokter tukang ular dari Bogor. Kota Sukabumi di guyur hujan lebat. Jam 16.00 mereka datang dan kami segera bersiap siap. Berbekal perut kenyang dengan sebungkus nasi KFC akhirnya berngkatlah kami.

Si Bejo (nama kesayangan buat kendaraan operasional saya) diarahkan ke Kota Sukabumi – Jalan Pelabuhan Dua – Pangleseran – Bojong Lopang – Jampang Tengah – Lengkong (asalnya Debo, peserta Idola Cilik 2) – Jampang Kulon. Jalanan sepi, naik turun berkelok kelok dan kondisinya banyak berlubang. Laju si Bejo diperlambat ketika melewati daerah kebun coklat, karena sebelumnya mas Dokter pernah nyaris menabrak kukang (binatang malam) yang sedang menyeberang. Mas dokter memang sangat hafal karena daerah ini adalah wilayah jajahannya.

Jam 21.00 kami sampai di Surade. Kondisi jalan di daerah ini sudah bagus. Puff… capek juga duduk berjam jam. Paling enak kayaknya makan bakso, buat menghalau dingin. Kami bersepakad untuk cari warung bakso. Mas dokter mengajak ke warung bakso langganannya.. warung mie bakso OJOLALI. Dan setelah kenyang makan semangkuk bakso seharga Rp. 6000 ini, kami memang tidak akan pernah melupakan ‘prengutane’ si ibu Bakso.

Kami melanjutkan perjalanan menerobos kegelapan malam. Jam 22.00 akhirnya sampailah kami di Ujung Genteng. Total perjalanan sepanjang 130 Km kami tempuh selama 5 jam. Nyantai aja, biar lambat asal selamat.

Wah… tak sabar rasanya untuk segera mengintip penyu hijau yang lagi bertelur. Kami semua minim informasi tentang wilayah ini. Dalam kebimbangan, kami dihampiri oleh tukang ojeg yang siap untuk mengantarkan kami ke tempat penyu. Jaraknya masih sekitar 3 km an. Mereka menawarkan gocap (Rp. 50.000) perorang satu motor. Ditawar tawar dengan bahasa sundapun mereka tak mau menurunkan harga ( tetep tau kali ya, kalo kami bukan orang Sunda). Tapi karena memang sudah pengeeeen banget akhirnnya kami menyetujui harga tersebut. Si Bejo kami parkir di halaman Pondok Adi. Kami melintasi jalan yang gelap nan sempit dan sering berpapasan dengan motor motor lain yang pulang dari Pangumbahan. Wah rupanya kami sudah kemalaman. Sesampainya di tempat konservasi, ternyata masih banyak pengunjung yang lain. Segera kami mengisi buku tamu dan membayar Rp. 5.000 kepada petugas jaga. Bersama sama kami di antar ke tempat penyu. Kebetulan 4 penyu sebelumnya sudah selesai bertelur dan sudah kembali ke laut. Lama juga kami menunggu giliran penyu berikutnya. Sambil menunggu,  kami korek informasi ke bapak petugas. Katanya, dulu tempat konservasi ini dikelola oleh swasta dan sejak Agustus 2008 telah diambil alih oleh pemerintah. Puncak musim bertelur adalah bulan November – Januari. Pada musim ini bisa sampai 90 ekor penyu, sementara pada musim musim seperti sekarang rata rata permalam hanya 10 ekor penyu yang bertelur. Pantai Pangumbahan hanyalah salah satu titik saja sebagai tempat favorit untuk bertelur. Sebenarnya masih sejauh 9 Km ke arah Ciemas tetapi baru radius 3 Km saja yang tertangani. Pasir di Pantai Pangumbahan ini sangat halus. Sementara kami asyik ngobrol, ada 2 ekor penyu yang sudah mendarat dan mulai membuat lubang untuk bertelur. Petugas tak segan segan mengingatkan pengunjung untuk tidak menyalakan lampu atau jeprat jepret kamera, karena adanya sinar lampu mengganggu penyu yang mau bertelur. Wow… besar sekali penyunya, diameter antara setengah sampai satu meter. Dalam keremangan, terlihat kedua kaki belakang dipakainya untuk menyibakkan pasir.  Lubang galian kurang lebih setengah meter dengan posisi belakang lebih dalam sehingga posisi penyu pada saat bertelur hampir tegak lurus. lama penggalian ini sekitar 1 – 1,5 jam.

Membuat Lubang untuk Bertelur

Membuat Lubang untuk Bertelur

Penyu hijau ((chelonia mydas) mulai bertelur pada umur antara 25 – 30 tahun dan sekali bertelur antara 100 – 200 butir. Ketika sudah mulai mengeluarkan telur telur yang besarnya se bola ping pong, penyu tak peduli dengan gangguan disekitarnya. Pada saat ini kamipun sudah boleh menyalakan lampu senter dan memotret si penyu. Si penyu terus mengeluarkan telurnya sampai selesai. Dalam satu musim bertelur bisa 3 -4 kali bertelur.

Sedang Bertelur

Sedang Bertelur

Setelah selesai bertelur secara alami si penyu akan segera menutup lubang dengan kaki belakangnya. Tapi ditempat konservasi ini, petugas akan segera mengamankan (mengambil) telur telur tersebut agar tidak dimakan biawak ataupun pemangsa lainnya. Telur telur dibawa ke tempat penetasan (Hatcher). Penyu segera pulang ke laut. Tampak sekali si penyu capek dan lelah. Ketika kami sorot lampu, dipelupuk matanya berair seperti sedang menangis. Kenapa ya?

Sekali proses bertelur dari mendarat, membuat lubang, bertelur, sampai kembali ke laut butuh waktu sekitar 3 – 3,5 jam.

Kembali ke Laut

Kembali ke Laut

 Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul o1.00 dini hari. Kami dan pengunjung yang lain segera meninggalkan tempat tersebut. Kami melewati tempat pasir yang dipagar bambu. Ternyata tempat itu adalah tempat penetasan. Kami diizinkan untuk masuk ke dalam ketempat telur telur ditanam. Didalam area tersebut kami jalan hati hati dan satu setapak saja agar tidak menginjak telur yang ditanam. Ditengah terdapat lubang jebakan dan lampu, agar tukik tukik (anakan penyu yang sudah menetas) masuk kesitu dan mempermudah pangambilan. Telur akan menetas menjadi tukik setelah 52 hari. Bayi mungil penyu ini sangat lucu sekali cangkangnya masih lunak. Sebelum naik ojeg untuk kembali ke kendaraan kami melihat tukik tukik yang siap untuk dilepaskan ke laut. Setiap harinya tukik tukik ini dilepas ke laut pada jam setengah lima sore. Minimal 1000 tukik yang dilepaskan, akan tetapi hanya sekitar 1% saja yang hidup dan kembali kesini untuk kemudian bertelur meneruskan keturunannya.

Tukik Tukik Siap Dilepas ke Laut

Tukik Tukik Siap Dilepas ke Laut

Kami kembali menerobos kegelapan malam ke tempat parkir si Bejo. Mata rasanya sudah lengket, dan kebetulan Pondok Adi sudah penuh sehingga harus cari penginapan lain. Kami datangi semua pondok penginapan yang di situ mulai dari Pondok Hexa, Pondok Ujang, Pondok Deddy dan Pondok Mamas. Tepatlah dugaan kami = semua penuh. Malam itu memang banyak sekali pengunjungnya. Dalam keadaan seperti itu, kami tetap beruntung karena kami semua adalah petualang. Dalam keadaan apapun, posisi apapun, dimanapun, kami bisa tidur. Akhirnya kami parkir di halaman salah satu pondok, no matter what… dan ZZzz….ZZzz…zzzzzzzzz……

2 Komentar »

  1. Comment said

    Penyuz berkata
    Maret 21, 2009 @ 6:43 pm
    Wahhhh dapat foto pas penyu-nya ngendog …

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 22, 2009 @ 4:05 am
    Iya, dapat dan masih ada beberapa foto lagi pas penyunya bertelur..

    Balas

    ybandung berkata
    Maret 23, 2009 @ 11:33 am
    Telurnya boleh diambil dan digoreng untuk lauk tidak? hehe ..

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 23, 2009 @ 11:54 am
    Kemarin cuma 1 yang dikasih ke pengunjung, Mas Dung. Kata petugasnya, dulu ketika dikelola swasta sebagian telur ditetaskan sebagian lagi dijual (sampai dibukain DO). Tapi…. sekarang juga masih sering aku liat dijual bebas dikota Sukabumi. Harganya kisaran 2.500 – 4000/ butir. Lumayan mahal dibanding telur ayam. Manfaatnya untuk menambah stamina, cenah. Kalo dimasak putih telurnya tetep lembek.

    Balas

    ardi berkata
    Maret 30, 2009 @ 7:12 am
    mau nanya donk,,,
    kalo mau ke ujung genteng naek angkutan umum bisa ga??

    Balas

    marcantia berkata
    Maret 31, 2009 @ 1:30 pm
    Bisa Mas Ardi, dari kota sukabumi naik angkot jurusan terminal Lembur Situ (minibus arah Pelabuhan Ratu jg bisa, turun Lembur Situ), trus naik minibus (MGI) atau angkutan lain jurusan Surade turun terminal Surade trus dilanjutkan angkutan ke ujung Genteng.

  2. gulajawa said

    pengen banget bisa kesana pas libur natal-tahun baru nanti.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: